oleh

KRI Sigurot-864 Amankan Kapal Tanker Berbendera Singapura Berlabuh Liar di Perairan Kepri

Koarmada I tidak henti-hentinya menertibkan dan menegakkan kedaulatan dan hukum di laut yurisdiksi nasional. Pelanggaran hukum dan kedaulatan di perairan Indonesia seperti yang dilakukan kapal-kapal niaga adalah berlabuh jangkar diluar area yang ditentukan. KRI Sigurot-864 salah satu unsur jajaran Koarmada I telah mengamanakan kapal tanker berbendera Singapura, MT Prosperity yang sedang lego jangkar tanpa izin pada jarak 9 Nm dari Utara Tanjung Berakit, Bintan Utara, Kepulauan Riau, Selasa (8/10/2019).

Hasil pemantauan dari Pusat Komando dan Kendali Operasi Koarmada I bahwa ada kapal tanker yang diindikasikan melaksanakan labuh jangkar di perairan territorial Indonesia secara illegal. Selanjutnya ditugaskan KRI Sigurot-864 untuk melaksanakan pemeriksaan terhadap dokumen kapal, yang diketahui kapal tanker tersebut adalah MT Prosperity diduga telah melakukan lego jangkar di wilayah teritorial Indonesia pada posisi 01°21.519′ U – 104°38.000′ T atau berjarak sekitar 9 nautikal mil dari pantai secara ilegal. Hal tersebut melanggar Pasal 317 UU Nomor 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran yang mengatur semua kapal asing yang menggunakan alur laut kepulauan Indonesia dalam pelayarannya tidak boleh menyimpang kecuali dalam keadaan darurat.

MT Prosperity adalah kapal ke-12 yang diamankan oleh Koarmada I karena melakukan lego jangkar secara illegal di perairan territorial Indonesia utara tanjung Berakit pulau Bintan kepulauan Riau.

Dari hasil pemeriksaan, Komandan KRI Sigurot-864 Mayor Laut (P) Dienul Akbar, S.E., menyebutkan Kapal MT Prosperity berbendera Singapura merupakan kapal jenis tanker dengan bobot 11.951 GT dan diawaki oleh 22 ABK yang berkewarganegaraan dari Indonesia 12 orang, Myanmar 5 orang, Korea 4 orang dan China 1 orang. Saat dilaksanakan penggeledahan muatan kapal, tidak ditemukan muatan atau kosong.

Berdasarkan dugaan pelanggaran tersebut, Kapal MT Prosperity di Adhock oleh Sigurot-864 menuju area Lego Tanjung Uban dan diserahkan ke Lantamal IV Tanjung Pinang untuk proses lebih lanjut.

News Feed